Foto bersama Peserta Penyuluhan Leptospirosis dengan Mahasiswa KKNT Kelompok 13 Universitas Alma Ata. (Dok: Pribadi)

Kasus Leptospirosis Meningkat, KKNT Kelompok 13 Universitas Alma Ata Gelar Penyuluhan untuk Petani Dusun Tempel

Bantul – Kasus leptospirosis di Kabupaten Bantul menunjukkan peningkatan signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY, tercatat 227 kasus dengan 12 kasus kematian, menjadikan Bantul sebagai kabupaten dengan angka tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini menjadi perhatian serius sekaligus mendorong pelaksanaan program edukasi kesehatan di masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, mahasiswa KKNT Kelompok 13 Universitas Alma Ata Yogyakarta melaksanakan program kerja Penyuluhan Leptospirosis pada Senin, 16 Februari 2026, bertempat di Rumah Pak Dukuh Dusun Tempel, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul. Kegiatan yang merupakan program titipan dari Pemerintah Kabupaten Bantul ini dihadiri oleh 20 orang bapak-bapak petani Dusun Tempel sebagai kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar penyakit tersebut.

Acara dimulai pukul 19.30 WIB dan berlangsung hingga 21.00 WIB. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan sambutan Ketua KKNT Kelompok 13, kemudian pelaksanaan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta. Setelah itu, tim KKN menyampaikan materi penyuluhan, dan kegiatan ditutup dengan post-test sebagai evaluasi peningkatan pemahaman.

Pemaparan Materi Penyuluhan Leptospirosis oleh Tim KKNT Kelompok 13 Universitas Alma Ata. (Dok: Pribadi)
Pemaparan Materi Penyuluhan Leptospirosis oleh Tim KKNT Kelompok 13 Universitas Alma Ata. (Dok: Pribadi)

Dalam penyuluhan tersebut, peserta menerima leaflet edukatif yang memuat informasi lengkap dan sistematis mengenai leptospirosis, mulai dari pengertian penyakit, prevalensi kasus, hewan pembawa bakteri (terutama tikus), cara penularan, kelompok yang berisiko, gejala yang perlu diwaspadai, langkah pencegahan, waktu yang tepat untuk memeriksakan diri ke puskesmas, hingga cara pengendalian tikus sebagai upaya pengurangan risiko.

Sebagai petani yang sehari-hari beraktivitas di sawah dan sering terpapar genangan air, peserta termasuk dalam kelompok rentan. Paparan air yang terkontaminasi urine tikus, terutama ketika terdapat luka kecil pada kaki, menjadi salah satu jalur utama penularan bakteri Leptospira.

Suasana kegiatan berlangsung aktif, khususnya saat sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta terlihat antusias menyampaikan pengalaman mereka saat bekerja di sawah maupun ketika menghadapi kondisi banjir.

Nadia Tri Utami selaku pemateri dan anggota tim KKNT Kelompok 13 menyampaikan,

“Saya sangat mengapresiasi antusiasme warga dalam mengikuti penyuluhan leptospirosis ini. Diskusi berjalan aktif dan warga terlihat peduli terhadap kesehatan lingkungan serta pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Saya berpesan agar informasi yang telah disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah penularan. Harapan saya, kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga kasus leptospirosis di dusun tempel dapat ditekan.”

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNT Kelompok 13 berharap masyarakat, khususnya para petani, semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung saat bekerja di sawah, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, dan mata kemerahan setelah terpapar air yang berpotensi tercemar.

Penyuluhan ini menjadi salah satu langkah konkret kolaborasi antara mahasiswa dan pemerintah daerah dalam upaya menekan angka kasus leptospirosis di Kabupaten Bantul serta membangun kesadaran kesehatan berbasis masyarakat.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *